words per minute
19
salmanaizZ
00:00
Speed
Setiap pagi aku bangun sebelum matahari muncul, mencuci muka, menyeduh kopi, lalu duduk di pekarangan sambil melihat orang orang berangkat kerja, sementara aku tetap berada di rumah dan bertanya kepada diriku sendiri apakah aku benar benar tidak berguna hanya karena tidak memiliki pekerjaan.
Tetangga tetangga mulai mengucilkanku, sebagian berbicara ketika aku lewat, sebagian menyebutku tuna karya, seolah olah dua kata itu cukup untuk menjelaskan seluruh hidup seseorang, dan setiap kali mendengarnya aku hanya tersenyum karena aku tidak tahu harus menjelaskan apa kepada orang yang sudah menentukan siapa diriku sebelum mengenalku.
Setiap hari terasa sama, bangun, mencuci muka, menyeduh kopi, duduk di pekarangan, melihat orang bekerja, lalu kembali tidur setelah seharian tidak menghasilkan apa apa selain pertanyaan yang semakin banyak.
Sampai suatu pagi aku melihat tanah warisan keluargaku yang sudah lama terbengkalai, lalu berpikir bahwa mungkin aku terlalu sibuk menunggu dunia memberiku tempat sampai lupa bahwa aku masih memiliki tangan untuk menciptakan tempatku sendiri.
Aku mengambil cangkul dan mulai bekerja.
Tanah tidak bertanya apakah aku tuna karya, tidak peduli bagaimana tetangga melihatku, dan tidak pernah menuntutku menjadi seseorang yang bukan diriku, ia hanya menerima apa yang kuberikan kepadanya.
Aku membersihkan tanah, membuat bedengan, menanam benih, lalu merawatnya setiap hari, dan untuk pertama kalinya aku merasa bahwa waktu yang kulewati benar benar menjadi milikku.
Bulan berganti bulan sampai masa panen tiba, aku menjual hasil kebun, menggunakan sebagian uang untuk membeli modal, sebagian untuk kebutuhan sehari hari, lalu menabung sisanya, setelah itu aku mengulang semuanya lagi, menanam, menunggu, memanen, menjual, dan menabung.
Kebunku semakin luas dan kehidupanku perlahan berubah, rumah mulai diperbaiki, tabungan bertambah, dan orang orang yang dahulu mengucilkanku mulai menyapa dengan ramah.
Mereka tidak lagi melihatku sebagai tuna karya.
Mereka melihatku sebagai seseorang yang berhasil.
Aku hanya tersenyum karena aku masih orang yang sama, dengan wajah dan tangan yang sama, hanya keadaan yang berubah, dan dari sana aku mulai mengerti bahwa manusia sering kali tidak menilai seseorang berdasarkan siapa dirinya, tetapi berdasarkan apa yang sedang dimilikinya.
Kemudian orang orang mulai datang dengan wajah ramah dan cerita tentang kesulitan hidup, mereka meminta pinjaman uang, dan karena aku tahu rasanya berada dalam keadaan tidak memiliki apa apa, aku membantu mereka.
Namun sebagian tidak mengembalikan uang itu, sebagian menghilang, dan sebagian bahkan marah ketika kutagih.
Aku kehilangan uang, tetapi yang lebih menyakitkan adalah kehilangan kepercayaan kepada orang yang selama ini kuanggap membutuhkan pertolonganku.
Aku bertanya kepada diriku sendiri apakah kebaikanku menjadi tidak berarti karena telah dimanfaatkan.
Lalu aku sadar bahwa kebaikan tidak menjadi buruk hanya karena orang lain menyalahgunakannya, yang perlu berubah adalah caraku memberikan kebaikan.
Sejak saat itu aku belajar mengatakan tidak, belajar menjaga hasil kerjaku, dan belajar bahwa menjadi baik tidak berarti harus membiarkan orang lain menghancurkan hidupku.
Aku masih tidak mengerti mengapa manusia harus bekerja begitu keras, mengapa orang baik bisa diperlakukan buruk, atau mengapa sebagian orang mendapatkan hidup yang mudah sementara sebagian lainnya harus berjuang lebih keras.
Tetapi aku tidak lagi merasa harus memahami semuanya.
Setiap pagi aku masih menyeduh kopi dan melihat orang orang berangkat kerja, tetapi sekarang aku tidak lagi tersenyum sedih karena aku tahu bahwa mereka memiliki jalan mereka sendiri dan aku memiliki jalanku sendiri.
Setelah kopi habis, aku mengambil cangkul dan berjalan menuju kebun.
Aku tidak bekerja untuk membuktikan kepada siapa pun bahwa aku bukan tuna karya, aku bekerja karena hari ini aku memilih untuk bekerja.
Tanah tidak menjanjikan masa depan.
Tanaman tidak menjanjikan keberhasilan.
Manusia juga tidak menjanjikan akan selalu menghargai kebaikanku.
Tetapi selama aku masih memiliki tangan untuk bekerja dan pikiran untuk memilih, aku tidak lagi merasa sebagai seseorang yang menunggu hidup dimulai.
Aku sudah berada di dalamnya.
Dan untuk pertama kalinya, itu terasa cukup.