words per minute
5
Marco_Halim
00:00
Speed
Musim panas masih belum berlalu, namun pohon-pohon yang seharusnya tumbuh mulai berwarna senja dan berguguran. Meski demikian, rakyat Pulau Hitam harus tetap mengumpulkan hasil panen untuk mempersiapkan diri pada musim gugur dan musim dingin. Hasil panen kali ini tidaklah banyak namun cukup untuk melewati musim gugur; hanya saja tidak untuk musim dingin. Siang itu, Penduduk Pulau Hitam berkumpul dan berunding di balai kota untuk mencari solusi tepat mendapatkan persedian makanan menghadapi salju.
"Apakah diantara kalian memiliki gagasan untuk menghadapi masalah yang tengah kita hadapi?" Terdengar suara lantang dari seorang kakek yang berada ditengah podium balai kota. Dia adalah kepala Pulau Hitam. Meskipun umurnya hampir genap 100 tahun, perawakannya masih seperti pria atletis pada usia 50.
Keheningan pun terjadi beberapa saat hingga seseorang mencetuskan sebuah ide yang akan menjadi awal permulaan tragedi pada cerita ini.
"Bagaimana kalau kita serang pulau Hijau dan kita rampas makanan mereka?" Terdengar dari kerumunan penduduk yang berkumpul. Para penduduk yang berkumpul di balai kota adalah 50 kepala keluarga Pulau Hitam. Hubungan mereka sangatlah dekat satu sama lainnya, Namun tidak ada yang sebenarnya mengingat dan mengetahui suara tersebut.
Sebagian besar dari Mereka yang setuju mulai berseru kegirangan menambah kegaduhan euphoria. Ide gila tersebut dianggap adalah solusi terbaik karena mereka benar-benar putus asa akan kondisi tersebut. Meskipun begitu, Kepala Pulau masih belum menyetujuinya, yang berarti gagasan tersebut masih belum dapat dilaksanakan.
Penasaran akan kelanjutannya?
Kita akan lanjut di Bagian Kedua...