words per minute

14

RastiAnanda


00:00

Speed

Di tengah hiruk-pikuk berisiknya jalanan kota, Nara merasakan jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya, suasana ini seolah membungkusnya dengan kerinduan dan kegugupan yang membaur menjadi satu. Kecerahan hari bergetar lebih intens saat matanya seperti menangkap sosok yang dikenalinya, rasanya dunia berhenti sejenak ketika melihat punggung tersebut, berharap memang sosok yang dikenalinya itu, namun ternyata lain. Tiba-tiba ia jadi teringat dengan sosok itu, seorang yang tak hanya menawan secara fisik tetapi juga memiliki karisma yang memikat, ia adalah Revan, kakak kelasnya dulu, sosok yang telah mengisi setiap sudut hati dan pikirannya sejak ia duduk di bangku sekolah menengah. Revan adalah sosok bagaikan rembulan yang menyinari gelapnya langit malam, memancarkan pesona keindahannya yang menyentuh jiwa, namun tak tergapai. Ia tak hanya menarik perhatian Nara, tetapi juga menjadi sumber inspirasi dan kekaguman yang tiada henti. Hari-hari sekolah menengahnya dulu berlalu dengan lambat, namun setiap harinya Nara selalu mengamati Revan dari kejauhan, menyimpan perasaannya dalam diam, seperti seseorang yang memendam sebuah rahasia berharga hingga waktu berlalu. Tahun-tahun telah berganti, Nara melanjutkan kehidupannya sambil terus menyimpan rasa yang tak terucapkan, bertahun-tahun hingga ia memasuki perguruan tinggi, bayangan Revan tetap menghiasi pikirannya, walau tak pernah lagi melihatnya sejak lulus sekolah. Setiap kali ia membuka media sosial, Nara selalu mencari tau tentang Revan, berharap ada sedikit informasi tentang orang yang disukainya itu. Setelah tujuh tahun berlalu, perasaan Nara masih sama, masih sering membuka media sosialnya Revan. Dengan hati bergetar, ia membuka profil instagramnya Revan, berharap menemukan sesuatu yang bisa menghidupkan kembali harapan-harapannya. Namun, harapan itu seketika pupus, saat ia melihat sederet huruf-huruf tersusun rapi dilengkapi emoticon love pada bio di profil tersebut. Kekecewaan dan kepedihan melanda Nara, seolah semua harapan dan mimpinya selama bertahun-tahun hancur dalam sekejab. Nara merasakan kepedihan yang mendalam setelah megetahui bahwa nama yang tertera beserta emoticon love tersebut adalah kekasih Revan, ia menyadari bahwa perasaannya selama ini tidak lebih dari sekedar ilusi. Di tengah kepedihan itu, Nara menyadari bahwa ia telah membangun sebuah istana di awan, yang akhirnya runtuh ketika terkena hujan kenyataan. Meskipun hatinya hancur, ia mulai memahami bahwa setiap perjalanan memiliki akhir dan pelajaran sendiri. Ia berusaha menerima kenyataan bahwa terkadang, cinta tidak selalu berbalas, hanya bisa menjadi saksi bisu dari kebahagiaan orang lain. Dengan langkah getir, ia berusaha mengarahkan pandangannya kembali ke depan, menyadari bahwa di luar sana masih ada kemungkinan dan peluang yang menantinya. Kekecewaan ini adalah sebagian kecil dari kisah hidupnya, sebuah bab yang mengajarkannya tentang harapan, kenyataan, dan penerimaan. -Nayy
words per minute
0
wpm
accuracy
0%
Text Practice - Time 837 - English

words per minute