words per minute
5
Mutiarasuk
00:00
Speed
Aku masih ingat hari itu.
Langit menangis begitu hebat, meluapkan semua kesedihan tanpa sungkan. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh, mengutuk titik-titik air yang jatuh membasahi tubuh mereka. Aku juga sama-dulu.
Dulu, hujan selalu kulihat sebagai gangguan. Penghambat langka. Perusak suasana. Ia datang tanpa di undang, memaksa dunia untuk berhenti sejenak.Seperti kehidupan yang kadang manurunkan badai tepat ketika kita tidak siap menghadapinya.
Badaiku datang di penghujung musim semi dihidupku.
Tiba-tiba saja, segala yang kubangun dengan hati-hati luruh seperti istana pasir ditrepa ombak. Impian yang kuyakini sudah dalam genggaman, mendadak menguap bagai kabut pagi yang tertelan matahari. Orang-orang yang kupikir akan selalu ada, pergi tanpa menoleh kembali.
aku terduduk ditanah yang basah, menatap langit dengan mata yang basahnya.
"mengapa harus hujan lagi?" bisiku pada semesta.
Jawaban tidak pernah datang dengan cara yang kita harapkan, bukan?