每分鐘字數
8
Typist_4530892
00:00
速度
Di sebuah desa yang letaknya begitu terpencil sampai penduduknya pun sering tersesat, hiduplah seorang pemuda bernama Gacor.
Gacor bukanlah orang biasa. Sejak kecil, dia memiliki cita-cita yang sangat besar: ingin menjadi orang sukses tanpa melakukan apa-apa.
Setiap pagi dia duduk di depan rumah sambil memandangi jalan, melihat rutinitas orang yang berangkat kerja. Setiap siang dia pindah ke belakang rumah karena panas. Setiap sore dia kembali ke depan rumah untuk melihat orang pulang kerja dan berharap ada keajaiban yang lewat.
Namun keajaiban tak kunjung datang.
Suatu hari, Gacor menemukan seekor kambing tersesat di belakang rumahnya. Bukannya dikembalikan, Gacor malah mendapat ide untuk beternak kambing.
Dia membeli satu kambing. Kambingnya beranak. Anak kambingnya beranak. Anak dari anak kambingnya beranak lagi. Dalam waktu singkat, halaman rumah Gacor penuh kambing sampai-sampai dirinya sendiri harus antre untuk masuk rumah.
Gacor menjual kambing-kambing tersebut dan mendapat banyak uang.
Dengan uang itu, dia membuka usaha sate kambing. Usahanya meledak, membuat Joko eh maksudnya Gacor kaget. Pembelinya datang dari mana-mana. Bahkan orang dari desa sebelah rela berjalan kaki tiga hari hanya untuk membeli sate.
Gacor pun menjadi kaya raya.
Rumahnya besar. Mobilnya banyak. Kolam ikannya luas. Bahkan ikan lelenya berwarna emas dan sudah memiliki kolam pribadi.
Namun, suatu malam Gacor merasa bosan.
Dia duduk di teras, menghitung uang sambil menguap.
Gacor bergumam, Kalau begini terus, hidupku terlalu mudah, aku butuh tantangan.
Lalu muncullah ide paling berbahaya yang pernah lahir dari kepala Gacor.
Dia mencoba depo judol.
Awalnya menang.
Gacor kaget kedua kalinya.
Dengan logat desa, dia berkata; Lah, kok bisa?
Dia depo lagi. Menang lagi.
Wah, ternyata aku berbakat.
Dia mulai foya-foya. Beli barang. Traktir teman. Pesan makanan satu meja, lalu bingung mau dimakan siapa.
Karena merasa tidak terkalahkan, Gacor depo lagi.
Kalah.
Ah, cuma satu.
Depo lagi.
Kalah.
Ini pasti lag.
Depo lagi.
Kalah lagi.
Ini pasti karena server google belum panas.
Kambingnya pun didoakan.
Tetap kalah.
Gacor mulai panik. Ia menjual mobil. Kalah. Menjual rumah. Kalah. Menjual usaha sate. Kalah. Bahkan kambing-kambingnya satu per satu ikut dijual demi modal depo.
Akhirnya, yang tersisa hanya seekor kambing.
Gacor menatap kambing itu dengan penuh harapan.
Maaf, Bro.
Kambing itu menatap balik seolah berkata, Goblok.
Kambing pun dijual.
Gacor depo lagi.
Kalah.
Akhirnya Gacor tidak punya uang, tidak punya rumah, tidak punya usaha, tidak punya kambing, dan tidak punya harga diri.
Dia pun jatuh miskin, susah, sulit, ripuh, busung lapar, masuk neraka.