eng
competition

Text Practice Mode

belajar mengetik

created Apr 26th, 02:01 by NyaiZahra


0


Rating

505 words
6 completed
00:00
Terik matahari tanpa ampun menghujam Kulit hitam itu. Menyentuhnya dan mencabiknya dengan Caranya sendiri. Rasa panas & ketakutan berbaur menyelimuti dirinya. Tak tau kemana lagi Ia akan bersandar sehabis ini.
 
Pukul 16.00 WIB, kegelapan tiba-tiba tiba dan seakan menjulur menenggelamkannya ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Namun sehabis itu pergi dan muncul Kunang2 perkasa yang menyinarinya. Kunang-kunang itu ingin sekali membisikkan sesuatu ditelinganya, seakan beliau telah mendapatkan hal terbaik di hidupnya.
 
Lebih dari 997 potongan jeruji besi renta yang menjadi temannya selama dua tahun belakang ini membuatnya muak. Tapi ia sadar jikalau memang ia lupa diri pada waktu itu. Kini ia terusik akan datangnya bunyi itu. Ya, bunyi pemilik toko yang mengomeli pekerjanya yang tak becus
 
“Tresno, bangun Tresno! Jangan tidur saja kerjaan kau,” bunyi lantang milik Bang Togar itu menyentakkan tidur pulasnya. Tresno yang sedari tadi berada di tumpukan beras miliknya, kini terjaga.
 
“I. . . . . iya, Bang!” segera Tresno kembali mengangkati beras” itu ke dalam toko. Sulit membayangkan laki-laki bujang mantan narapidana menyerupai Tresno mendapatkan jodoh perempuan solehah menyerupai yang diidamkannya selama ini. Jangankan jodoh, pekerjaan saja sulit ia dapatkan. Kepercayaan masyarakat terhadap orang menyerupai Tresno memang mungkin sudah hilang.
 
Sekitar 1 bulan yang kemudian Tresno dibebaskan dari daerah memuakkan itu. Karena bujuk rayu Syamsuddin dan Abrar yang membuat beliau tak berpikir panjang waktu itu. Seketika itu motor haram yang berhasil mereka curi berubah jadi bunga uang yang menari-nari di depan mereka. Dari hasil pencurian itu, Tresno berhasil melunasi utang-utangnya di Malang, kota kelahirannya
 
“Ini sudah, Bang?”{tanyanya menyudahi pekerjaannya}
 
“Ya cukuplah itu. Lain kali jikalau ada pekerjaan kosong, kau akan ku pekerjakan lagi,” [tukas Bang Togar pelan, tetapi masih terdengar keras ditelinga Tresno.]
 
Setelah mendapatkan uang penghasilan dari Bang Togar, Tresno berniat tidak pulang dulu ke rumah kontrakannya. Dia ingin belanja keperluan dapur. Walaupun Tresno hidup sendirian, ia lebih menentukan masak sendiri di dapur mininya.
 
Angin sore berhembus di Pasar Kosngòsan yang ramai. Seorang anak perempuan menangis merengek tak karuan pada ibunya yang menjajakan cabai-cabai merah kepada para pelanggan yang lewat. Si ibu kelihatan repot.*
 
“Berapa sekilo, Bu?”tanya Tresno menghampiri ibu itu.
 
“Eh, oh, iya. 25, Nak,” jawab si ibu tergopoh-gopoh meladeni Tresno. Anak perempuan itu menatap muka Tresno. Tresno senyum tipis. Ajaibnya, anak perempuan itu berhenti merengek dan duduk bagus di atas peti barang milik mereka.
 
“Nggak bisa kurang, Bu?”
 
23 -lah, harga mati ini,”
 
Si ibu kini termangu melihat anaknya duduk bagus tak merengek lagi.
 
“Bungkuslah, Bu. Sekalian bawang merahnya seperempat,”pintanya sambil merogoh-rogoh saku celana jeans_nya.
 
“Ini, Nak, Ibu tambahin cabenya seperempat lagi,”
 
“Lho, kan saya minta sekilo, Bu. Mengapa jadi lebih?” Tresno heran dengan perkataan si Ibu.
 
“Anggap saja ini sebagai bonus, sebab senyuman si Anak bisa membuat Aidah tidak merengek lagi,”terang si Ibu melebarkan senyum kepada Tresno. Kini Tresno mengerti maksud si Ibu.
 
Hiruk pikuk Kósngosan tetap saja terdengardi indera pendengaran Tresno. Suasana sore senja membawanya ke alam yang berbeda. Ada suasana khas yang ia temui disini. Perlahan cahaya kemerah-merahan berganti menjadi redup. Seiring perjalanannya pulang, angin sore tiada berhenti menghembus menerpa badan laki-laki jakung itu.

saving score / loading statistics ...