eng
competition

Text Practice Mode

Boneka Tanah Liat

created Monday August 25, 11:56 by NALIDHA CLASS MUHI


0


Rating

444 words
69 completed
00:00
Tangan Raya terasa dingin saat ia memijat gumpalan tanah liat, membentuknya menjadi figur manusia kecil. Sudah sebulan dia tinggal di rumah neneknya yang terpencil, di tengah keheningan hutan pinus. Neneknya, seorang seniman patung tanah liat, meninggalkan warisan berupa rumah dan studio yang penuh dengan karya-karya yang aneh. Raya tidak pernah tertarik dengan seni, tapi kini ia merasa sepi. Suatu malam, ia menemukan sebuah kotak tua di sudut  studio. Di dalamnya, ada beberapa catatan tangan dengan tinta yang pudar : "Jiwa yang hilang membutuhkan wadah. Sentuhan tanganmu adalah nyawa bagi mereka."
Raya tidak mengerti artinya, tapi ia mencoba mempraktikkannya. malam itu, ia membuat sebuah boneka tanah liat kecil, mirip seorang anak perempuan. Dia menaruh bonek itu di meja samping tempat tidurnya, lalu tertidur. Dia terbangun di tengah malam. Ada suara pelan dari arah meja. Boneka itu, yang sebelumnya hanya figur statis, sekarang duduk bersila dengan kepala menunduk. Jantung Raya berdebar. Dia mendekat, tangannya gemetar. Boneka itu terasa hangat. Dia segera meletakkannya kembali di meja, mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia hanya bermimpi. Namun, keesokan harinya, sesuatu yang lebih aneh terjadi. Raya mendengar suara bisikan pelan dari dalam studio. Suara itu menyebut namanya, "Raya... Raya..."
Dia masuk ke dalam studio, dan menemukan semua patung tanah liat neneknya yang berjejer rapi, kini menghadap ke arahnya. Matanya terbuat dari batu kecil, tampak seperti mata asli yang menatap lurus kearahnya. Panik, Raya ingat boneka yang ia buat. Dia berlari ke kamarnya. Boneka itu tidak ada di meja. Dia mencarinya ke seluruh ruangan, dan akhirnya menemukannya di bawah tempat tidur. Boneka itu meringkuk, seolah sedang bersembunyi. Raya mengangkatnya, dan kali ini boneka itu terasa dingin. Tiba-tiba, ia mendengar suara langkah kaki dari lantai atas. Krek... krek... krek... Suara itu berat, bukan seperti langkah neneknya yang sudah meninggal, melainkan seperti seseorang yang sedang menyeret sesuatu. Dengan rasa takut yang luar biasa, Raya naik ke atas, ke kamar neneknya. Pintu kamar terbuka sedikit. Dia mengintip, dan melihat pemandangan yang membuatnya membeku.
Neneknya sedang duduk di kursi goyang, menghadap jendela. Tubuhnya kaku dan ditutupi oleh debu. Di pangkuannya, ada figur tanah liat berukuran manusia. Tiba-tiba, mata patung itu berkedip. Mata itu bukan dari batu, melainkan mata asli. Raya menjerit, ia menutup mulutnya, mundur perlahan, dari berlari menuruni tangga. Dia teringat tulisan neneknya di buku harian : "Jiwa yang hilang membutuhkan wadah"
Dia sadar, neneknya tidak meninggalkan rumah ini, ia ada di dalamnya. Jiwa neneknya ada di dalam boneka tanah liat, sementara tubuhnya yang asli hanya menjadi wadah yang kosong. Boneka yang ia buat sendiri, yang ia beri nyawa, kini berjalan dan bersembunyi. Dia melihat ke bawah. Boneka tanah liat yang ia pegang, yang tadinya meringkuk, kini kepalanya mendongak ke atas, menatapnya dengan senyum lebar.

saving score / loading statistics ...