Text Practice Mode
"teks latihan 1000 kata bagi saya"
created Today, 08:57 by rivaldhy zaenudin
2
740 words
11 completed
0
Rating visible after 3 or more votes
saving score / loading statistics ...
00:00
Cerita Latihan Mengetik (1000 kata)
Pada suatu sore yang tenang di sebuah desa kecil, seorang pemuda bernama Arka duduk di beranda rumah kayu milik keluarganya. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah setelah hujan turun siang tadi. Arka menatap jalan setapak yang membentang di depan rumah, jalan yang sudah ia lalui sejak kecil, jalan yang penuh kenangan. Ia teringat masa-masa sekolah, ketika ia berlari bersama teman-temannya, tertawa tanpa beban, dan bermimpi tentang masa depan yang terasa begitu jauh.
Hari itu, Arka sedang merenungkan perjalanan hidupnya. Ia baru saja menyelesaikan kuliah di kota besar, lalu kembali ke desa untuk sementara waktu. Banyak orang bertanya, “Mengapa kau pulang? Bukankah di kota ada lebih banyak peluang?” Arka hanya tersenyum. Baginya, pulang bukan berarti mundur, melainkan mencari arah baru. Ia ingin memahami dirinya lebih dalam, sebelum melangkah lebih jauh.
Di desa, kehidupan berjalan lambat. Orang-orang bangun pagi, bekerja di sawah, lalu berkumpul di warung kopi untuk berbincang. Tidak ada hiruk pikuk kendaraan, tidak ada gedung tinggi, tidak ada lampu neon yang menyilaukan. Justru ketenangan itu yang membuat Arka merasa damai. Ia bisa mendengar suara burung, bisa melihat bintang di langit malam, bisa merasakan waktu berjalan dengan ritme alami.
Namun, ketenangan bukan berarti tanpa tantangan. Arka menyadari bahwa desa tempat ia tinggal menghadapi banyak masalah: akses pendidikan terbatas, lapangan kerja minim, dan anak-anak muda sering kali pergi ke kota tanpa kembali. Ia bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah aku bisa melakukan sesuatu di sini? Apakah aku bisa memberi arti bagi orang-orang yang aku cintai?” Pertanyaan itu terus bergema di kepalanya.
Suatu hari, Arka bertemu dengan seorang guru tua bernama Pak Surya. Guru itu sudah pensiun, tetapi masih aktif mengajar anak-anak membaca dan menulis di rumahnya. “Arka,” kata Pak Surya, “kau punya ilmu dari kota. Jangan biarkan ilmu itu hanya tersimpan di kepalamu. Bagikanlah, meski sedikit, kepada mereka yang membutuhkan.” Kata-kata itu menusuk hati Arka. Ia sadar, ilmu bukan untuk disimpan, melainkan untuk dibagikan.
Sejak saat itu, Arka mulai mengajar anak-anak desa. Ia tidak punya ruang kelas resmi, hanya halaman rumah dengan tikar sederhana. Anak-anak duduk melingkar, membawa buku lusuh dan pensil pendek. Mereka belajar dengan semangat, meski fasilitas terbatas. Arka mengajarkan membaca, menulis, berhitung, bahkan sedikit tentang komputer. Ia membawa laptop bekas dari kota, memperlihatkan bagaimana mengetik, bagaimana mencari informasi, bagaimana dunia luas bisa diakses lewat layar kecil.
Hari demi hari, jumlah anak yang datang bertambah. Ada yang awalnya malu-malu, ada yang kesulitan membaca, ada yang cepat menangkap pelajaran. Arka sabar menghadapi mereka semua. Ia tahu, setiap anak punya kecepatan berbeda, setiap anak punya mimpi yang unik. Ia tidak ingin memaksa, ia hanya ingin membuka jalan.
Suatu malam, setelah selesai mengajar, Arka duduk sendirian di beranda. Ia menatap langit penuh bintang, lalu menulis catatan di buku harian. “Hari ini aku merasa lelah, tetapi bahagia. Anak-anak tertawa, mereka mulai bisa membaca kalimat sederhana. Aku percaya, meski kecil, langkah ini akan berarti.” Ia menutup buku, lalu tersenyum.
Waktu berjalan, dan kabar tentang kegiatan Arka menyebar. Orang tua mulai mendukung, warga desa mulai ikut membantu. Ada yang menyumbang tikar baru, ada yang membawa lampu agar belajar bisa dilakukan malam hari, ada yang memberikan buku bekas. Perlahan, kegiatan kecil itu berubah menjadi gerakan bersama.
Arka tidak pernah menyangka, niat sederhana bisa tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar. Ia hanya ingin berbagi, tetapi ternyata berbagi bisa menular. Semangat itu menyebar, membuat desa terasa lebih hidup. Anak-anak mulai bermimpi, orang tua mulai berharap, dan Arka sendiri merasa menemukan tujuan.
Suatu ketika, seorang teman lama dari kota datang berkunjung. “Arka, kau gila,” katanya sambil tertawa. “Di kota kau bisa bekerja dengan gaji besar, tetapi di sini kau hanya mengajar anak-anak dengan buku lusuh.” Arka menatap temannya, lalu menjawab pelan, “Mungkin benar. Tapi di sini aku merasa berguna. Di sini aku melihat senyum yang tulus. Di sini aku belajar arti hidup.” Temannya terdiam, lalu perlahan mengangguk.
Cerita Arka terus berlanjut. Ia tidak tahu sampai kapan akan tinggal di desa, tetapi ia tahu satu hal: setiap hari yang ia jalani di sana adalah bagian dari perjalanan penting. Ia belajar bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar uang atau status, melainkan tentang memberi arti. Ia belajar bahwa kebahagiaan bisa ditemukan di tempat sederhana, bersama orang-orang yang tulus.
Dan pada akhirnya, Arka menyadari bahwa pulang bukan berarti mundur. Pulang adalah kembali ke akar, kembali ke sumber kekuatan, kembali ke tempat di mana mimpi bisa tumbuh dengan cara yang berbeda. Ia menutup matanya, mendengar suara jangkrik, merasakan angin malam, lalu berbisik pada dirinya sendiri: “Aku sudah menemukan jalanku.”
Pada suatu sore yang tenang di sebuah desa kecil, seorang pemuda bernama Arka duduk di beranda rumah kayu milik keluarganya. Angin berhembus pelan, membawa aroma tanah basah setelah hujan turun siang tadi. Arka menatap jalan setapak yang membentang di depan rumah, jalan yang sudah ia lalui sejak kecil, jalan yang penuh kenangan. Ia teringat masa-masa sekolah, ketika ia berlari bersama teman-temannya, tertawa tanpa beban, dan bermimpi tentang masa depan yang terasa begitu jauh.
Hari itu, Arka sedang merenungkan perjalanan hidupnya. Ia baru saja menyelesaikan kuliah di kota besar, lalu kembali ke desa untuk sementara waktu. Banyak orang bertanya, “Mengapa kau pulang? Bukankah di kota ada lebih banyak peluang?” Arka hanya tersenyum. Baginya, pulang bukan berarti mundur, melainkan mencari arah baru. Ia ingin memahami dirinya lebih dalam, sebelum melangkah lebih jauh.
Di desa, kehidupan berjalan lambat. Orang-orang bangun pagi, bekerja di sawah, lalu berkumpul di warung kopi untuk berbincang. Tidak ada hiruk pikuk kendaraan, tidak ada gedung tinggi, tidak ada lampu neon yang menyilaukan. Justru ketenangan itu yang membuat Arka merasa damai. Ia bisa mendengar suara burung, bisa melihat bintang di langit malam, bisa merasakan waktu berjalan dengan ritme alami.
Namun, ketenangan bukan berarti tanpa tantangan. Arka menyadari bahwa desa tempat ia tinggal menghadapi banyak masalah: akses pendidikan terbatas, lapangan kerja minim, dan anak-anak muda sering kali pergi ke kota tanpa kembali. Ia bertanya pada dirinya sendiri, “Apakah aku bisa melakukan sesuatu di sini? Apakah aku bisa memberi arti bagi orang-orang yang aku cintai?” Pertanyaan itu terus bergema di kepalanya.
Suatu hari, Arka bertemu dengan seorang guru tua bernama Pak Surya. Guru itu sudah pensiun, tetapi masih aktif mengajar anak-anak membaca dan menulis di rumahnya. “Arka,” kata Pak Surya, “kau punya ilmu dari kota. Jangan biarkan ilmu itu hanya tersimpan di kepalamu. Bagikanlah, meski sedikit, kepada mereka yang membutuhkan.” Kata-kata itu menusuk hati Arka. Ia sadar, ilmu bukan untuk disimpan, melainkan untuk dibagikan.
Sejak saat itu, Arka mulai mengajar anak-anak desa. Ia tidak punya ruang kelas resmi, hanya halaman rumah dengan tikar sederhana. Anak-anak duduk melingkar, membawa buku lusuh dan pensil pendek. Mereka belajar dengan semangat, meski fasilitas terbatas. Arka mengajarkan membaca, menulis, berhitung, bahkan sedikit tentang komputer. Ia membawa laptop bekas dari kota, memperlihatkan bagaimana mengetik, bagaimana mencari informasi, bagaimana dunia luas bisa diakses lewat layar kecil.
Hari demi hari, jumlah anak yang datang bertambah. Ada yang awalnya malu-malu, ada yang kesulitan membaca, ada yang cepat menangkap pelajaran. Arka sabar menghadapi mereka semua. Ia tahu, setiap anak punya kecepatan berbeda, setiap anak punya mimpi yang unik. Ia tidak ingin memaksa, ia hanya ingin membuka jalan.
Suatu malam, setelah selesai mengajar, Arka duduk sendirian di beranda. Ia menatap langit penuh bintang, lalu menulis catatan di buku harian. “Hari ini aku merasa lelah, tetapi bahagia. Anak-anak tertawa, mereka mulai bisa membaca kalimat sederhana. Aku percaya, meski kecil, langkah ini akan berarti.” Ia menutup buku, lalu tersenyum.
Waktu berjalan, dan kabar tentang kegiatan Arka menyebar. Orang tua mulai mendukung, warga desa mulai ikut membantu. Ada yang menyumbang tikar baru, ada yang membawa lampu agar belajar bisa dilakukan malam hari, ada yang memberikan buku bekas. Perlahan, kegiatan kecil itu berubah menjadi gerakan bersama.
Arka tidak pernah menyangka, niat sederhana bisa tumbuh menjadi sesuatu yang lebih besar. Ia hanya ingin berbagi, tetapi ternyata berbagi bisa menular. Semangat itu menyebar, membuat desa terasa lebih hidup. Anak-anak mulai bermimpi, orang tua mulai berharap, dan Arka sendiri merasa menemukan tujuan.
Suatu ketika, seorang teman lama dari kota datang berkunjung. “Arka, kau gila,” katanya sambil tertawa. “Di kota kau bisa bekerja dengan gaji besar, tetapi di sini kau hanya mengajar anak-anak dengan buku lusuh.” Arka menatap temannya, lalu menjawab pelan, “Mungkin benar. Tapi di sini aku merasa berguna. Di sini aku melihat senyum yang tulus. Di sini aku belajar arti hidup.” Temannya terdiam, lalu perlahan mengangguk.
Cerita Arka terus berlanjut. Ia tidak tahu sampai kapan akan tinggal di desa, tetapi ia tahu satu hal: setiap hari yang ia jalani di sana adalah bagian dari perjalanan penting. Ia belajar bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar uang atau status, melainkan tentang memberi arti. Ia belajar bahwa kebahagiaan bisa ditemukan di tempat sederhana, bersama orang-orang yang tulus.
Dan pada akhirnya, Arka menyadari bahwa pulang bukan berarti mundur. Pulang adalah kembali ke akar, kembali ke sumber kekuatan, kembali ke tempat di mana mimpi bisa tumbuh dengan cara yang berbeda. Ia menutup matanya, mendengar suara jangkrik, merasakan angin malam, lalu berbisik pada dirinya sendiri: “Aku sudah menemukan jalanku.”
saving score / loading statistics ...