Text Practice Mode
Kehilangan
created Yesterday, 05:14 by aziz8
0
250 words
31 completed
5
Rating visible after 3 or more votes
saving score / loading statistics ...
00:00
Lampu kota mulai menyala satu-satu Riuh, rendah suara tetangga, di balik pintu Ada aroma masakan yang menyelinap pelan. Mengingatkanku pada meja makan yang kini membisu.
Sepatu kecilku dulu ada yang merapikan, lutut yang luka selalu punya tempat pengaduan, kini aku belajar memakai perban sendiri. Menelan tangis agar tak pecah di sunti ini.
Dunia menuntuku lekas dewasa, tanpa sempat dianajari cara meraba makna, aku berjalan di atas tali yang tipis Menyembunyikan wajah yang mulai terkikis.
aku adalah rumah tanpa genteng dingin mengendap, langit terasa gelap ke mana kucari arah pulang yang sejati? Jika kompas di genggamanku telah mati.
Tak ada suara yang memanggil namaku dengan hangat. Hanya gema sepi yang terasa kian lebat. Aku tumbuh, tapi jiwaku tertinggal di sana Di pelukan yang kini hanya tinggal warna.
Setiap keberhasilan terasa hambar di lidah Tak ada mata bangga yang membuatku merasa indah saat gagal, aku jatuh ke lantai yang keras tanpa tangan yang menarikku dari arus yang deras.
Mereka bilang waktu akan menembuhkan, tapi waktu hanya membuatku terbiasa dengan kehilangan belajar menjadi ayah bagi diriku sendiri, belajar menjadi ibu untuk hati yang sunyi.
Mungkin kalian melihatku berdiri tegak, tapi di dalam hati aku masih anak kecil yang sesak mencari-cari bayangan di antara kerumunan merindukan teguran, merindukan tuntunan.
sebab aku adalah rumah tanpa genteng dingin mendekap, langit terasa gelap kemana kucari arah pulang yang sejati? jika kompas di genggamanku telah mati.
Malam ini biarkan aku sedikit saja manja pada kenangan yang mulai memudar, warnanya akan baik-baik saja, meski harus berjalan tanpa arah tujuan.
Sepatu kecilku dulu ada yang merapikan, lutut yang luka selalu punya tempat pengaduan, kini aku belajar memakai perban sendiri. Menelan tangis agar tak pecah di sunti ini.
Dunia menuntuku lekas dewasa, tanpa sempat dianajari cara meraba makna, aku berjalan di atas tali yang tipis Menyembunyikan wajah yang mulai terkikis.
aku adalah rumah tanpa genteng dingin mengendap, langit terasa gelap ke mana kucari arah pulang yang sejati? Jika kompas di genggamanku telah mati.
Tak ada suara yang memanggil namaku dengan hangat. Hanya gema sepi yang terasa kian lebat. Aku tumbuh, tapi jiwaku tertinggal di sana Di pelukan yang kini hanya tinggal warna.
Setiap keberhasilan terasa hambar di lidah Tak ada mata bangga yang membuatku merasa indah saat gagal, aku jatuh ke lantai yang keras tanpa tangan yang menarikku dari arus yang deras.
Mereka bilang waktu akan menembuhkan, tapi waktu hanya membuatku terbiasa dengan kehilangan belajar menjadi ayah bagi diriku sendiri, belajar menjadi ibu untuk hati yang sunyi.
Mungkin kalian melihatku berdiri tegak, tapi di dalam hati aku masih anak kecil yang sesak mencari-cari bayangan di antara kerumunan merindukan teguran, merindukan tuntunan.
sebab aku adalah rumah tanpa genteng dingin mendekap, langit terasa gelap kemana kucari arah pulang yang sejati? jika kompas di genggamanku telah mati.
Malam ini biarkan aku sedikit saja manja pada kenangan yang mulai memudar, warnanya akan baik-baik saja, meski harus berjalan tanpa arah tujuan.
saving score / loading statistics ...